Timnas Sepakbola Indonesia dalam SEA Games XXVI. (google.com)
Khusus untuk cabang olahraga Sepakbola, sepanjang sejarah SEA Games, Indonesia baru dua kali meraih emas, yaitu pada Tahun 1987, mengalahkan Malaysia di partai final 1 – 0 dan pada Tahun 1991, mengalahkan Malaysia di penyisihan group 2 – 0. SEA Games tahun ini, meskipun Timnas U-23 gagal meraih medali emas tapi banyak hal membanggakan sebenarnya, saya mencatatnya paling tidak ada lima fakta yang seharusnya tidak melemahkan semangat kita dan tetap membanggakan Timnas asuhan Rahmad Darmawan ini.
Pertama, Inilah untuk pertama kalinya Timnas Sepakbola Indonesa melaju ke final dengan pelatih asli orang Indonesia, Rahmad Darmawan. Dua Pelatih asing yang berhasil membawa Timnas Indonesia pulang dengan medali perak adalah Wiel Coerver pada Tahun 1979 dan Henk Wullems pada Tahun 1997. Rahmad Darmawan adalah adalah pelatih ketiga yang membuat Timnas meraih medali perak. Satu hal yang membanggakan saya kira, apalagi dengan hasil imbang 1 – 1 sampai akhir babak tambahan.
Kedua, Timnas sepakbola Indonesia telah menunjukkan spirit perjuangan luar biasa dengan persiapan latihan hanya tiga bulan menghadapi Timnas sepakbola Malaysia dengan persiapan dua tahun, dengan hasil imbang 1 – 1 di final sampai habis dua kali perpanjangan waktu (2 x 45 menit ditambah 2 x 15 menit). Adu finalti menurut saya, lebih kepada faktor keberuntungan.
Ketiga, skor dan koleksi gol dari penyisihan group sampai di final jauh lebih banyak dicetak oleh Timnas Indonesia dibanding Timnas Malaysia. Lihat saja bagaimana Timnas Indonesia mampu menaklukkan dan mempertontonkan gol – gol cantik saat melawan Kamboja (6 – 0), Singapore (2 – 0), Thailand (3 – 1), dan Vietnam (2 – 0).
Keempat, Kemampuan Timnas Indonesia yang sebagian besar hanya punya pengalaman laga tanding dalam negeri adalah suatu hal membanggakan dapat mengimbangi kekuatan lawan, Timnas Malaysia yang mempunyai pengalaman tanding persahabatan di Negara – Negara Erofah.
SEA Games XXVI. Indonesia
Kelima, Dengan kekuatan supporter memerahkan Stadion GBK, Timnas lawan dapat merumput dengan baik karena supporter tidak melakukan kecurangan atau mengganggu pemain lawan seperti halnya pada saat Indonesia laga tanding Piala AFF 2010 dengan Malaysia di Kualalumpur. Saat itu, supporter Malaysia menggunakan laser untuk mengganggu konsentrasi Timnas Garuda Indonesia. Harus diakui bahwa mental pemain Malaysia bertanding di kandang lawan sangat baik, namun perlu pula disadari bahwa 90.000 lebih supporter Indonesia di GBK juga sudah semakin dewasa, meskipun tetap ada insiden kecil yang terjadi sebelum pertandingan, dua supporter Timnas meninggal karena berdesak – desakan dan terinjak.
Kelima fakta ini menunjukkan bukti bahwa sebenarnya “Indonesia Bisa”. Pelatih dan Pemain Timnas layak mendapatkan apresiasi tinggi atas keberhasilannya melaju sampai di partai final hanya dalam tempo latihan singkat. Bagaimanapun, Timnas U-23 ini adalah tim masa depan yang perlu terus mendapatkan pembinaan yang serius. Terima kasih Rahmad Darmawan. Terima kasih Timnas. Forza Indonesia. Kami tetap bangga padamu !. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar